DALYANA'S BLOG
My Life My Imagination My Opinion

Rabu, 15 Desember 2010

KHUTBAH JUMAH "“MENYAMBUT TAHUN BARU 1431 HIJRIAH” Oleh: Dalyana, S.Pd., M.Pd.

A.     Pembukaan
Hadirin jamaah Jum’ah rohimakumulloh.
Hari ini bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1431 H, di mana kita umat Islam, di manapun saja berada, meskipun tidak seistimewa penyambutan tahun baru masehi 1 Januari 2010 yang akan dating. Bahkan tidak sedikit umat islam yang baru tahu kalau hari ini tanggal 1 Muharram 1431 H, ketika beberapa hari lalu melihat kalender ditulis dengan angka merah, pertanda hari libur. Kenapa demikian? Karena, memang kebanyakan kita keluarga Muslim di rumah, tidak memiliki Kalender Hijriah. Justru yang banyak mendominasi di rumah – rumah kita dan di kantor – kantor Pemerintah dan Swasta adalah Kalender Masehi. Maka sangatlah wajar, apa bila kita umat Islam dan anak – anak kita sangat hafal nama – nama bulan Masehi, mulai Januari, Pebruari dst sampai Desember, atau nama – nama bulan tahun Saka, mulai Suro, Sapar, Mulud dst sampai Besar, namun tidak hafal nama – nama bulan Hijriah, mulai: Muharram, Syafar, Robi’ul Awal, Robi’ul Akhir, Jumadil Ula, Jumadits-Tsaniah, Rajab, Sya’ban, Romadhon, Syawal, Dzul Qo’idah dan Dzul Hijjah.
Hadirin jamaah Jum’ah rohimakumulloh
Pertanyaan – pertanyaan yang perlu kita jawab, melalui khutbah kali ini adalah: 
1.       Kapan dimulainya dan mngapa perlu adanya penanggalan Islam?
2.       Mengapa peristiwa hijrah yang digunakan sebagai permulaan kalender Islam?, bukan peristiwa lahirnya Nabi? Bukan peristiwa turunnya Al – Quran atau peristiwa lainnya?
3.       Bagaimana kronologis singkat dari peristiwa hijrah itu?
4.       Hikmah apa yang dapat kita petik dari peristiwa hijrah itu?
5.       Bagaimana relevansinya hijrah di masa kini?
Bagaimana semestinya kita menyambut tahun baru Islam dan Masehi?

B.     Isi Khutbah
Hadirin jamaah Jum’ah rohimakumulloh
Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa hijrah Nitu, antara lain:
 1.      Kita boleh berpindah dari tempat yang tidak kondusif dalam penegakan kebenaran, ke tempat yang lebih kondusif
 2.      Setiap perjuangan menegakkan kebenaran pasti akan banyak rintangan dan mengandung resiko yang tidak ringan, namun yakinlah bahwa kebenaran (Islam) pasti menang berkat pertologan Alloh SWT
 3.      Keberanian seorang pemuda Ali bin Abi Thalib ra menggantikan tidur di tempat tidur Nabi, yang perlu diteladani pemuda masa kini
 4.      Peran wanita muslimah dalam perjuangan yang ditunjukkan oleh Asma’ binti Abu Bakar Ash- Shiddiq ra, yang selalu mengirim makanan dan berita ketika Nabi dan Ayahnya bersembunyi di bukit Tsur.
 5.      Adanya persatuan, kesatuan dan persaudaraan seiman yang sejati yang patut diteladani antara kamum Muhajirin dan Kaum Anshor
 6.      Keteladanan Nabi sebagai pemimpin, di mana saat tidak enak beliau duluan dan saat enaknya beliau belakangan. Sungguh sangat bertolak belakang dengan para pemimpin masa kini.
 7.      Nabi begitu tiba di Madinah, justru Masjid yang dibangun. Ini sebagai bukti betapa urgensnya fungsi masjid dalam pembinaan Umat dan generasi Islam
 8.      Adanya kepatuhan yang amat sangat umat Islam terhadap komando Nabi, tidak seperti sekarang semua ingin jadi komando (Pemimpin), sehingga Parpol Islam bertuyuk (banyak).

Hadirin jamaah Jum’ah rohimakumulloh
Tentu saja, hijrah masih sangat relvan di masa kini. Namun hijrah (pindah) di masa kini bukan pindah dari Mekah ke Matinah, tetapi hijrah (pindah):
1.       dari kemaksiatan menuju kemakrufan (kebajikan), dengan cara meninggalkan perbuatan maksiat dan memperbanyak amal kebajikan, serta dengan meningkatkan kegiatan dakwah amar makruf nahi munkar, baik secara kuantitas maupun kualitas
2.       dari kemiskinan menuju kekayaan, dengan upaya bekerja keras dan tidak bermalas – malasan.
3.       dari kebodohan menuju kepintaran, dengan rajin membaca dan belajar
4.       dari kesyirikan menuju kemurnian tauhid, dengan meninggalkan keyakinan – keyakinan tahayul dan khurafat yang saat ini masih banyak dianut oleh kebanyakan masyarakat kita.
5.       dari permusuhan/ persengketaan menuju persatuan dan kesatuan, dengan banyak bersilaturahmi dan saling memahami dan menghargai adanya perbedaan – perbedaan di antara kita

Hadirin jamaah Jum’ah rohimakumulloh
Bagaimanakah semestinya kita sambut tahun baru hijriah ini, maupun tahun baru masehi 1 Januari 2010 nanti?
Kita berharap agar umat Islam tidak sampai kita ikut – ikutan kebanyakan orang dalam menyambut tahun baru masehi, dengan begadang semalam suntuk, dansa – dansi apa lagi sampai mabuk – mabukan. Tetapi hendaklah kita gunakan momen pergantian tahun sebagai sarana untuk berhitung/ instrospeksi/ merefleksi diri, tentang apa dan bagaimana yang telah dan akan kita lakukan.
Hal ini sesuai anjuran Kholifah Umar bin Khotob ra. Yang menyatakan “Berhitunglah diri kalian, sebelum kalian dihitung (oleh Alloh di akherat kelak)” dan sesuai pula dengan firman Alloh dalam QS. Al – Hasyr: 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Selanjutnya kita harus berusaha, ke depan lebih baik dari hari ini atau tahun ini, jangan hanya sama, apa lagi malah lebih jelek. Sesuai kata hikmah, yang menyatakan: “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin (tahun ini lebih baik dari tahun kemarin), maka ia beruntung dan barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin (tahun ini sama dengan tahun kemarin), maka ia rugi dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin (tahun ini lebih buruk dari tahun kemarin), maka ia tercela”

Hadirin jamaah Jum’ah rohimakumulloh
Dalam rangka kita merenung, menghitung dan merefleksi diri ini, marilah kita bertanya pada diri kita masing – masing, dengan pertanyaan – pertanyaan berikut ini:
1.       Sudah berapakah umur kita sekarang ini?
2.       Jika kita diberi jatah umur 70 tahun misalnya, tinggal berapa tahun lagi kita dapat hidup, bekerja, bersenang - senang dan beramal di dunia ini?
3.       Bukankah kita yakin bahwa kematian itu pasti akan menemui kita cepat atau lambat?
4.       Bukankah kita yakin bahwa ada kehidupan sesudah mati? Ada nikmat kubur? Ada Siksa kubur? Ada nikmat surga dan ada siksa neraka?
5.       Bukankah kita yakin, bahwa hanya 3 perkara yang akan kita tinggalkan dan pahalanya akan mengalir, jika kita mati nanti?, yaitu: a) Ilmu yang bermanfaat, b) Shodaqoh jariah dan c) Anak sholih?
6.       Bagaimanakah kita memanfaatkan umur yang telah kita jalani selama ini?
7.       Seberapa banyakkah dosa dan kesalahan yang kita lakukan selama ini?
8.       Sudahkah kita bertobat dan memohon ampun atas itu semua?
9.       Dan seterusnya dan seterusnya.

C.     Penutup

Demikianlah khutbah kali ini, mudah – mudahan ada manfaatnya. Aamien, yaa Robbal ‘Aalamien.

Baarokalloohu lii walakum fil Qur’anil ‘Adzim. Wanafa’anii waiyyakum minal aayaati wadzikril hakiem. Wataqobballa minni waminkum tilawatahu innaahu Huawal Ghofuuruu Rohiem



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar